2026-03-31
Resmi! DJP Hapus Sanksi Keterlambatan SPT Tahunan 2025, Ini Detail Kebijakannya
#tax # regulation # individual # income # relaxation
Penulis : msmconsulting.co.id
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kembali memberikan relaksasi kepada Wajib Pajak Orang Pribadi dalam pelaporan pajak. Melalui Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-55/PJ/2026, pemerintah resmi menghapus sanksi administratif terkait keterlambatan pelaporan dan pembayaran pajak untuk SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Tahun Pajak 2025.
Kebijakan ini menjadi angin segar, terutama di tengah masa transisi ke sistem baru Coretax DJP serta adanya periode libur panjang seperti Nyepi dan Idul Fitri.
Latar Belakang Kebijakan DJP
Kebijakan ini diterbitkan dengan beberapa pertimbangan utama, yaitu:
Implementasi sistem baru Coretax (Sistem Inti Administrasi Perpajakan)
Kesiapan sistem dan pemahaman Wajib Pajak yang masih dalam tahap penyesuaian
Adanya hari libur nasional dan cuti bersama (Nyepi & Idul Fitri)
Potensi keterlambatan pelaporan SPT Tahunan
Dengan kondisi tersebut, DJP memberikan kemudahan administrasi agar Wajib Pajak tetap dapat memenuhi kewajibannya tanpa terbebani sanksi.
Apa Saja Sanksi yang Dihapus?
Melalui KEP-55/PJ/2026, DJP menghapus sanksi administratif berupa denda dan/atau bunga untuk:
1. Keterlambatan Lapor SPT Tahunan
Wajib Pajak tetap dapat melaporkan SPT Tahunan 2025 meskipun terlambat, dengan ketentuan:
Disampaikan maksimal 1 bulan setelah jatuh tempo pelaporan
2. Keterlambatan Pembayaran PPh Pasal 29
Jika terdapat pajak kurang bayar:
Pembayaran masih diperbolehkan hingga 1 bulan setelah jatuh tempo pembayaran
Tanpa dikenakan sanksi bunga
3. Kekurangan Pembayaran Pajak
Untuk SPT yang mengalami kekurangan pembayaran:
Tetap diberikan penghapusan sanksi
Selama pembayaran dilakukan dalam jangka waktu relaksasi (1 bulan)
Bagaimana Mekanisme Penghapusan Sanksi?
DJP menegaskan bahwa:
Tidak akan diterbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) atas keterlambatan tersebut
Jika STP sudah terlanjur terbit:
Akan dihapus secara jabatan oleh Kantor Wilayah DJP
Artinya, Wajib Pajak tidak perlu mengajukan permohonan khusus untuk mendapatkan penghapusan sanksi ini.
Dampak bagi Wajib Pajak
Kebijakan ini memberikan beberapa keuntungan, antara lain:
✅ Menghindari denda keterlambatan SPT
✅ Tidak dikenakan bunga atas keterlambatan pembayaran
✅ Memberi waktu tambahan untuk penyesuaian sistem Coretax
✅ Tidak mempengaruhi status Wajib Pajak Kriteria Tertentu
Catatan Penting yang Harus Diperhatikan
Meskipun ada relaksasi, Wajib Pajak tetap perlu memperhatikan hal berikut:
Batas relaksasi hanya maksimal 1 bulan setelah jatuh tempo
Tetap wajib melaporkan dan membayar pajak
Berlaku khusus untuk Tahun Pajak 2025
Tidak menghapus kewajiban pajak, hanya sanksinya
Kebijakan DJP melalui KEP-55/PJ/2026 merupakan langkah strategis dalam mendukung transisi ke sistem Coretax sekaligus menjaga kepatuhan Wajib Pajak. Penghapusan sanksi ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk tetap memenuhi kewajiban perpajakan tanpa tekanan denda.
Namun demikian, Wajib Pajak tetap disarankan untuk segera melaporkan SPT dan melakukan pembayaran pajak agar terhindar dari risiko di kemudian hari.
Jika Anda masih mengalami kendala dalam pelaporan SPT melalui Coretax atau ingin memastikan perhitungan pajak sudah sesuai, tim kami siap membantu.
Hubungi MSM Consulting sekarang juga untuk konsultasi perpajakan yang cepat, tepat, dan aman.